Penyebab Asam Urat Sering Kambuh, Apa Saja?
Asam urat yang sering kambuh bukan hanya disebabkan oleh makanan. Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan kadar asam urat tetap tinggi dan memicu terbentuknya kristal urat di persendian. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan nyeri, bengkak, kemerahan, dan rasa panas pada sendi.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, asam urat merupakan hasil akhir metabolisme purin. Dalam kondisi normal, asam urat terutama dikeluarkan melalui urine oleh ginjal. Namun, jika tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat atau ginjal tidak mampu membuangnya secara optimal, kadar asam urat dalam darah dapat meningkat dan membentuk kristal di persendian.
Mengapa Asam Urat Bisa Sering Kambuh?
1. Kadar asam urat belum terkontrol
Salah satu penyebab utama kekambuhan adalah kadar asam urat yang masih tinggi dalam jangka panjang. Nyeri yang sudah menghilang tidak selalu berarti kadar asam urat sudah normal.
Pada penderita gout, pengobatan jangka panjang bertujuan menurunkan kadar urat hingga mencapai target tertentu sehingga kristal urat dapat berkurang dan risiko serangan berikutnya dapat ditekan. Pedoman American College of Rheumatology merekomendasikan pendekatan treat-to-target, yaitu menyesuaikan terapi berdasarkan kadar urat serum.
2. Terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi purin
Pola makan dapat berpengaruh terhadap kadar asam urat. Beberapa makanan yang tinggi purin antara lain jeroan, daging merah, ikan tertentu, kerang, sarden, dan ikan teri.
Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan penderita asam urat untuk membatasi konsumsi makanan tinggi purin dan mengatur pola makan secara seimbang.
Namun, bukan berarti semua makanan yang mengandung purin harus dihindari. Yang lebih penting adalah mengatur jenis makanan, jumlah, dan frekuensi konsumsinya.
3. Sering mengonsumsi minuman manis
Minuman dengan kandungan gula tinggi, terutama yang mengandung fruktosa, dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar asam urat.
Karena itu, kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda, minuman berpemanis, atau minuman tinggi gula sebaiknya dikurangi. Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.
4. Kurang minum atau mengalami dehidrasi
Dehidrasi dapat membuat proses pembuangan asam urat melalui urine menjadi kurang optimal. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terbentuknya kristal urat.
Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan peningkatan asupan cairan untuk membantu pengeluaran asam urat dari tubuh dan mencegah pembentukan kristal.
5. Berat badan berlebih
Kelebihan berat badan atau obesitas merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan hiperurisemia dan gout. Kondisi metabolik seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan gangguan metabolisme juga dapat berkaitan dengan peningkatan risiko gout.
Menjaga berat badan melalui pola makan sehat dan aktivitas fisik secara teratur dapat membantu mengurangi faktor risiko tersebut.
6. Konsumsi alkohol
Alkohol, terutama bir, dapat meningkatkan risiko peningkatan kadar asam urat dan serangan gout. Karena itu, konsumsi alkohol sebaiknya dihindari atau dibatasi, khususnya pada penderita gout yang sering mengalami kekambuhan.
7. Gangguan fungsi ginjal
Ginjal memiliki peran penting dalam membuang asam urat dari tubuh. Jika fungsi ginjal terganggu, pembuangan asam urat dapat berkurang sehingga kadarnya dalam darah meningkat.
Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa gagal ginjal atau gangguan kemampuan ginjal dalam menyaring limbah merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan peningkatan kadar asam urat.
8. Penggunaan obat tertentu
Beberapa jenis obat dapat memengaruhi kadar asam urat. Contohnya adalah obat diuretik tertentu yang digunakan untuk kondisi seperti hipertensi atau gagal jantung, serta beberapa obat lainnya.
Karena itu, apabila asam urat sering kambuh, penting untuk memberi tahu dokter mengenai semua obat yang sedang dikonsumsi. Jangan menghentikan atau mengganti obat sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter.
9. Pengobatan tidak dilakukan secara teratur
Gout merupakan kondisi yang dapat berlangsung dalam jangka panjang. Pengobatan tidak hanya ditujukan untuk mengatasi nyeri saat serangan terjadi, tetapi pada pasien tertentu juga diperlukan terapi untuk mengontrol kadar asam urat dalam jangka panjang.
Menghentikan obat sendiri setelah nyeri menghilang dapat membuat kadar asam urat kembali tidak terkontrol. Oleh sebab itu, terapi sebaiknya mengikuti evaluasi dan anjuran dokter. Pedoman Perhimpunan Reumatologi Indonesia juga menjadi salah satu acuan dalam diagnosis dan penatalaksanaan hiperurisemia serta artritis gout di Indonesia.
Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Asam Urat Kambuh?
Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengatur pola makan dengan gizi seimbang.
- Membatasi makanan tinggi purin seperti jeroan dan beberapa jenis seafood.
- Mengurangi minuman manis dan bersoda.
- Mencukupi kebutuhan cairan dengan air putih.
- Menjaga berat badan tetap sehat.
- Melakukan aktivitas fisik secara rutin sesuai kemampuan.
- Menghindari atau membatasi alkohol.
- Mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter.
- Melakukan pemeriksaan kadar asam urat secara berkala bila dianjurkan.
Kementerian Kesehatan RI juga menganjurkan pola hidup sehat, konsumsi makanan yang sesuai, aktivitas fisik, serta menjaga hidrasi sebagai bagian dari upaya pencegahan gout.
Jangan Hanya Mengandalkan Pantangan Makanan
Sering kali asam urat dianggap hanya berkaitan dengan makanan. Padahal, kekambuhan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kadar asam urat yang belum terkontrol, berat badan, dehidrasi, fungsi ginjal, kondisi kesehatan lain, hingga obat-obatan tertentu.
Jika serangan nyeri dan bengkak pada sendi terjadi berulang, sebaiknya lakukan pemeriksaan dan konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebab serta mendapatkan penanganan yang tepat.
Ingat, tujuan penanganan gout bukan hanya menghilangkan nyeri saat kambuh, tetapi juga mengendalikan kadar asam urat agar serangan tidak terus berulang.
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Asam Urat. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan / Ayo Sehat. Kemenkes RI – Asam Urat
- Perhimpunan Reumatologi Indonesia. Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Hiperurisemia dan Artritis Gout. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
- FitzGerald JD, Dalbeth N, Mikuls T, et al. 2020 American College of Rheumatology Guideline for the Management of Gout. Arthritis Care & Research. 2020;72(6):744–760. American College of Rheumatology – Gout Guideline
